Showing posts with label ACI =AKU CINTA INDONESIA. Show all posts
Showing posts with label ACI =AKU CINTA INDONESIA. Show all posts

Friday, October 17, 2008

Ujung Genteng Final Episode



Pada hari terakhir, kami pergi dengan seorang penduduk lokal yang menemani kami untuk menunjukkan jalan menuju Pantai Batu Belah, Pantai Citepuh dan Ombak Tujuh. Tidak heran disebut dengan Pantai Batu Belah, karena disini banyak sekali terdapat batu koral dengan ukuran besar, seperti biasanya saya disuguhi dengan pemandangan laut yang super biru, ombak besar, dan tidak satu pun manusia terlihat selain kami. Kami melewati pasir yang lebih putih dibandingkan dengan pantai pangumbahan, indah.

Selanjutnya kami mengunjungi Pantai Citepuh, disini banyak sekali terdapat kilang-kilang penangkapan ikan. Dan sekali lagi, hanya kami yang berenang-renang di pantai, tidak terlihat manusia lain di pantai kecuali satu-dua nelayan yang nampak sedang bersantai. Air laut Citepuh terasa sangat dingin dibanding dengan cuaca pantai yang sangat terik. Perlu diwaspadai disini adalah tarikan ombaknya sangat kuat walaupun sama sekali ombaknya bisa dibilang tidak ada apa-apanya dengan pangumbahan...hmmmm aneh... kadang walaupun sudah duduk pinggir pantainya, saya dan teman-teman sering terseret oleh ombak. Pijakan kaki di dalam airnya pun tidak stabil. Kadang menjadi dangkal, kadang malah menjadi dalam sampai kami tidak bisa menggapai pijakannya karena telah berubah ketinggiannya. Menurut saya pantai ini cukup membuat panik bagi orang yang tidak bisa berenang.

Pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Ombak Tujuh, perjalanan kami memakan waktu sekitar 1 jam dengan medan jalan yang cukup berat. Disini menuntut sekali keahlian mengendarai motor. Mobil? Jangan berharap, jalannya hanya muat untuk satu motor saja.

Musim kemarau nampak sudah cukup lama melanda wilayah ujung genteng, Ranting semak-semak yang kering menjadi bumerang buat kami. Kaki kami banyak yang baret-baret karena terkena ranting semak-semak yang mengering, untung saya membawa sarung. Saya langsung kenakan menutupi seluruh tubuh saya dan aman dari gesekan semak-semak. Terlihat pandangan iri dari berberapa teman-teman saya...he...

Ombak tujuh memang indah. Batu karang menjadi penahan ombak laut. Menyenangkan melihat ombak besar pecah terkena karang. Entah mengapa dinamakan ombak tujuh, mungkin karena ombaknya yang besar. saya tanya kepada penduduk lokal, nampaknya mereka pun sama bingungnya dengan saya. Sekali lagi lautnya biru kehijauan nampak jernih, ombak pun sedang tenang jadi kami memberanikan diri untuk berenang-renang disana. Hari semakin gelap, kami pun segera pulang, untuk beristirahat sebentar, lalu malam harinya kami berencana mengunjungi konservasi penyu.

Malam harinya, sekitar pukul 10 malam, setelah istirahat dan melahap ikan yang kami beli di pantai citepuh, kami langsung pergi ke konservasi penyu. Kami tidak boleh menyalakan senter, suasana sangat gelap dan tenang. Sementara kami menunggu penyu yang datang, kami duduk-duduk di pantai. Kami beruntung, tidak berapa lama kami melihat seekor penyu selesai bertelur dan pulang kembali ke laut. Semua seperti paparazzi, pengunjung berebutan mengambil foto penyu tersebut, ada yang naek di punggungnya, hey! Sedikit sedih melihat diperlakukan seperti itu. Sedihnya lagi, berberapa teman saya malah membeli telur-telur penyu yang jelas mereka tahu, bahwa binatang itu adalah binatang yang dilindungi karena mulai sedikit jumlahnya. Tapi mereka nampak tidak peduli. Saya sendiri tidak mau membeli karena saya pasti akan malu dengan diri saya sendiri.

Setelah melihat penyu, kami pun memutuskan untuk menikmati langit malam yang cerah. Terlihat ratusan bintang bersinar terang, kami semua terdiam menikmati malam itu. Tidak berberapa lama, saya melihat bintang jatuh! Wah bintang jatuh!untuk bertama kalinya saya melihat bintang jatuh! Karena terpana, saya tidak sempat mengucapkan keinginan saya, yang konon dipercaya apabila melihat bintang jatuh, ucapkan keinginanmu, maka akan keinginan itu akan terkabul.

Liburan yang menyenangkan. Saya berharap bisa kembali ke tempat ini. Musim kemarau sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat ini, pantainya lebih tenang, dan pantai-pantai yang terpencil akan lebih mudah diakses. Selanjutnya pasti saya akan mengunjungi pantai-pantai di indonesia yang tidak kalah indahnya!

Wednesday, October 15, 2008

Ujung Genteng episode 2


Pantai pertama yang kami singgahi adalah pantai yang paling dekat dengan penginapan kami. Pantai cibuaya. Pantai ini seperti kolam, karena berada di tepi pantai kemudian sekitar 50 meter airnya tertahan oleh karang laut. Kami pun berenang-renang menuju karang tersebut, namun tidak lama, salah satu teman saya, bernama Yanto, menginjak bulu babi!!wajahnya meringis kesakitan. Banyak gosip (atau mungkin fakta) beredar apabila terkena bulu babi, kita akan demam semalaman, bahkan sampai bisa terkena serangan jantung!wah!wah!

Kami langsung membawanya ke penginapan, wajahnya nampak menahan sakit dan berjalan pincang. Sesampainya di penginapan, kami langsung meminta si pemilik rumah untuk melakukan P3K. Kakinya lalu direndam air hangat dan pemutih (ya pemutih, katanya sih untuk mencegah infeksi), terlihat banyak sekali bintik hitam di tumitnya, dengan sabar si pemilik rumah mengeluarkan satu-persatu bulu babi yang menancap di kaki dengan jarum yang sudah disterilkan. Tapi sejam sudah berlalu, usahanya tidak terlalu menampakkan hasil, bulu-bulu babi masih sulit dikeluarkan, tapi untungnya keadaan teman saya semakin membaik membuat kami merasa lega. Dia masih pincang, namun sakitnya makin lama menghilang. Akhirnya kami pun melanjutkan petualangan kami!

Untuk mengunjungi pantai yang kedua, kami harus mengendarai motor. Banyak ojek yang menawarkan diri untuk membawa para turis ke pantai-pantai di Ujung Genteng.Untungnya, teman-teman saya ini sudah sering ke Ujung Genteng, jadi berberapa dari mereka membawa motor untuk menghemat ongkos berpergian di Ujung Genteng.

Pantai ke dua adalah pangumbahan. Jalan menuju kesana masih tanah, akses mobil masih dapat lewat, tapi cukup membuat para penumpangnya duduk tegak di kursinya dan berpegangan. Jadi saya sangat menyarankan, selain lebih cepat, dengan kondisi jalan seperti itu, motor merupakan kendaraan yang tepat untuk berpergian bertualang di tempat seperti ini.

Jalanan tidak jauh berbeda dengan ketika kami pergi ke tempat penduduk, namun tapi lebih sedikit mulus. Pemandangan kiri-kanan tetap tanah tandus dan kadang terlihat berberapa gubuk penduduk. Nampaknya Listrik belum masuk ke kawasan ini karena ketika malam harinya saya melewati jalan ini, obor di depan rumah penduduk jadi pemandangan yang cukup biasa.

Di perjalanan, kami melewati perservasi penyu. Kami tidak mampir karena tempat ini tepat dikunjungi ketika malam sudah larut, dimana penyu akan datang dan bertelur.

Tiba-tiba motor yang saya tumpangi berhenti, ternyata di tengah jalan kami terhenti karena ada genangan air yang cukup besar dan dalam menutupi jalan, yang ternyata jalur air yang nantinya akan bermuara di muara sungai di pangumbahan akhirnya motor harus diparkir di sebuah rumah tidak berpenghuni dan kita berjalan.

Kami berjalan sekitar 200 meter untuk mencapai pantai pangumbahan. Pantainya indah sekali. Dan selain itu, hanya kelompok kami yang ada di pantai itu! Horeeeeee!!!!! Rasa euforia langsung menyerang kami, kami kalap foto sana-sini, kami berlarian ke pantai, tetepai juga tidak sabar untuk berjalan-jalan mengeksplorasi pantai tersebut.

Ini adalah pantai yang paling indah dibandingkan dengan pantai-pantai yang pernah saya kunjungi, Dreamland di Bali pun tidak ada apa-apanya, mungkin Gili trawangan dan Belitung dapat menyaingi keindahannya tapi, ah untuk apa dibanding-bandingi toh setiap pantai punya keunikannya sendiri-sendiri.

Pasirnya lembut, namun karena angin kencang, butiran pasir kadang cukup menyakitkan apabila terkena kulit. Tapi ah!nikmati saja! Pantai ini cukup unik, disini terdapat tiga spot yang bisa kita nikmati. Disini terdapat muara sungai yang tertahan oleh pasir, mungkin apabila musim hujan, muara ini akan terbuka. Airnya payau dan cukup tenang dan dangkal. Kiri-kanannya terdapat pohon-pohon liar, kadang saya merinding sendiri ketika berenang di muara ini, karena bayangan buaya mungkin ada di tempat ini cukup sering terbersit, tapi ya sudah lah berserah saja! Tempat ini adalah tempat kami bisa berbasuh seusai berenang di laut.

Spot yang kedua adalah, saya tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi spot yang kedua, nampak sebuah genangan air yang sangat besar!!!! Kedalamannya hanya semata kaki, jadi ketika berjalan kami nampak seperti berjalan di atas air.

Di pantainya sendiri, Airnya nampak biru bersih, Ombaknya sangat besar dan tarikan ombaknya pun sangat kuat. Kadang kami harus menahan tubuh agar tidak terseret ombak, saya pun harus cukup berhati-hati disini, walaupun kadang lupa he... karena semakin besar ombak berarti akan semakin seru!

Hamparan pasir di pantai ini tidak kalah indahnya, saya tidak menemukan satu pun sampah di sini. Tapi saya malah khawatir saya akan kehilangan pemandangan ini ketika berkunjung lagi pada 10 tahun yang akan datang. Yah semoga para pengunjung dan penduduknya punya rasa peduli terhadap kebersihan pantai disini.
bersambung...

Tuesday, October 14, 2008

Tamasya Ujung Genteng episode 1





Kemasi barang-barangmu
celana pendek, kaos, baju renang, sandal,
lupakan kemeja dan semua kostum kerja
berangkat!!

Sudah hampir dua minggu berlalu, namun kenangan berlibur di Ujung Genteng masih melekat dalam benak saya. Awalnya saya bimbang pergi kesana karena saya akan pergi dengan orang-orang yang tidak saya kenal, mereka adalah temannya teman dari teman saya...fuh... Tapi “magic word” yang tidak bisa saya tolak keluar dari mulut teman saya “pantai ri...” Akh!saya mencintai pantai!mulai dari ombak, birunya laut, ikan-ikan segar murah, sunset, sampai teriknya matahari di pantai pun saya cinta!

Perjalanan memakan cukup banyak waktu hampir tujuh jam kami berada di jalan. Kami berangkat malam hari, dengan perhitungan jalan sepi dan akan tiba saat subuh dan bisa menikmati matahari terbit. Perjalanan apapun darat, laut, udara, bukan masalah bagi saya. Namun satu kelemahan saya, saya tidak bisa menyetir, memang banyak yang sudah mengeluh, tapi ya...sabar yaaaa, tahun ini deh pasti bisa!!!!! kadang memang menjadi keuntungan tersendiri dengan tidak bisa menyetir karena saya bisa puas menikmati pemandangan di perjalanan...he...

Sekitar pukul setengah enam pagi, kami masih dalam perjalanan. Kami sempat melihat matahari terbit dengan sinar oranyenya membentuk siluet pohon-pohon kelapa yang berjajar menjulang tinggi. Kami tidak jauh dari Ujung Genteng. Lelah kami sekejap hilang dengan melihat scene tersebut. Rasa kantuk saya hilang, hanya rasa tidak sabar yang ada di benak saya. Pantai. Pantai. Pantai.

Ketika memasuki wilayah Pantai Ujung genteng, saya melihat di sebelah kanan saya, berjejer penginapan-penginapan komersil dan di sebelah kirinya, tidak terlalu jauh, pantai membentang di depannya. Pemandangannya yah, jujur tidak membuat saya terlalu terpukau, namun saya cukup heran dengan pantainya yang memiliki karang sebegitu panjang dan luas, mulai dari tepi pantai hingga sekitar 100 meter menjorok ke laut. Laut pun seperti ditahan sehingga ombaknya kecil.

Dalam hati, Hmmmm...masa sih ini pantainya...akh!ekspektasi saya terlalu tinggi nih...tapi ketika berpikir seperti, kendaraan yang saya tumpangi tiba-tiba masuk wilayah “off road”, mobil memasuki jalan berpasir dan berbatu. Pemandangan mulai jauh berbeda, tengok kiri-kanan hanya melihat wilayah yang tandus, pemandangan laut menjadi ironi. Nampaknya hujan sudah lama tidak membahasi wilayah ini. Tampak spot-spot dimana rumput-rumput kering terbakar dan dari jauh terlihat perkebunan kelapa yang sangat luas. Berberapa menit kemudian, pantai dengan pasir yang lebih bersih terlihat. Tidak jauh dari situ, sebuah perkampungan penduduk menyambut kami.

Ya, kami tinggal di rumah penduduk, selain harga sewanya murah, rumah ini dapat menampung banyak orang. Oh iya, kami bersebelas. Rumah sewaan kami terdiri dari dua kamar tidur, satu ruang TV, ruang tamu, dapur dan satu kamar mandi. Rumahnya sederhana, tapi cukup mewah untuk di perkampungan. Jangan khawatir semua bersih, termasuk kamar mandi. Oh iya, apabila pergi ramai-ramai, jangan lupa bawa sleeping bag, tiker, kasur gulung apabila memungkinkan, karena pasti sebagian akan tidur di ruang TV atau pun ruang tamu.

Perkampungan ini juga sudah komersil, banyak sekali mobil-mobil dengan plat luar kota terparkir di setiap rumah penduduk. Diulik-ulik ternyata memang turis yang datang semakin bertambah setiap tahunnya, penginapan tidak sanggup menampung para turis yang dan datang, sehingga ini menjadi lahan basah bagi penduduknya untuk menyewakan rumahnya. Setelah sampai di rumah sewaan, kami istirahat sebentar, dan langsung memenuhi tujuan utama kami. Menikmati pantai!
bersambung...